Buat Pengembang: Menarik Harus, Berbohong Jangan!
- 2018-05-03
Buat Pengembang: Menarik Harus, Berbohong Jangan!
Apa pun produknya, gaya berpromosi bisa dilakukan dengan cara apa saja. Namun yang perlu diingat dan diperhatikan, Anda boleh menjual dengan aneka cara dan gaya, asal jangan pernah membohongi pelanggan Anda. Itu dosa!
HarianProperty.com-Masih ingat dengan kasus stand up comedian Muhadkly alias Acho yang pada pertengahan tahun lalu sempat digugat oleh pengelola tempat tinggalnya sendiri karena dinilai mencemarkan nama baik pengembang? Atau kasus lain yang menimpa salah seorang investor di pulau reklamasi karena lagi-lagi dianggap menyebar “berita palsu” (hoax) oleh sang pengembang?
Dari ke dua kasus yang disebutkan di atas sejatinya persoalan awalnya adalah karena adanya ketidak sesuaian antara janji pengembang saat masa-masa promosi dengan realita yang diterima oleh konsumen atau penghuni. Bukan satu atau dua kali kasus seperti itu terjadi. Rasanya masih banyak lagi peristiwa “pengingkaran” lainnya yang dialami oleh konsumen atau penghuni.
Padahal, secara etika dan hukum bisnis, konsumen tentu berhak untuk menuntut bilamana terdapat ketidak cocokan antara gimmick yang diberikan dengan kenyataan di lapangan. Dan secara etika, pengembang sudah pasti berkewajiban memenuhi komitmennya tersebut yang bagi konsumen merupakan madu-madu manis.
Semua di antara kita pasti masih ingat dan sepakat bahwa pertumbuhan properti terjadi begitu pesat dan melesat hebat pada kurun waktu 2011 hingga akhir 2014 silam. Ketika itu bahkan pengembang yang tanpa promo spesifik pun bisa menuai penjualan yang fantastis. Masyarakat pun berlaku seperti anak kecil yang disuguhi permen cokelat, sekalipun tanpa merek jelas pasti ingin mencicipi dan membeli.
Industri propeti kala itu tengah mengalami orgasme klimaks dari rangkaian siklus yang diyakini oleh banyak praktisi, pengamat hingga akademisi kerap terjadi per minimal lima tahun sekali. Tapi setelah itu, perlahan industri multiplayer effect ini mulai mengalami stagnansi berkepanjangan hingga mematahkan hampir semua asumsi pengamat yang mengatakan kelesuan ini tidak berlangsung lama.
Kondisi yang terjadi saat ini menurut F. Rach Suherman, pengamat properti yang juga mantan Director Century 21 adalah situasi di mana adanya ambiguitas di kalangan pengembang dalam merespon supply pasar sehingga terjadinya kesenjangan interaksi dalam menyanggupi perilaku investasi konsumen.
“Kalau kita bicara momentum, saat ini pemerintah sendiri sebenarnya telah memberikan sejumlah stimulus dan rangasangan berupa bunga yang rendah, tax amnesty sampai relaksasi perbankan yang semestinya harus dengan sigap direspon oleh pasar dalam memburu investasi properti,” jelas F. Rach dalam sebuah kesempatan.
Tugas pengembang pun menjadi “sedikit” lebih mudah dalam meng-grab market yang seperti kerumunan ikan sedang menunggu umpan ini. Kuncinya, perkuat value produk, berikan kemudahan dalam aplikasi pengajuan, hadirkan fasilitas yang menarik serta yang paling penting ialah mulai bergerak dari sekarang.
Create the Value
Di mata Ishak Candra, CEO Strategic Development and Services Sinarmas Land hukumnya menjadi wajib bagi pengembang terutama divisi marketing dalam memahami product knowledge dengan baik serta mengetahui value dari produk tersebut. “Di marketing we show the fact,” ujarnya saat ditemui di ICE BSD City.
Katanya, marketing itu mesti mengerti akan positioning produk dan value apa yang ditawarkan. Berpikir bagaimana produk itu menjadi cocok dengan kebutuhan konsumen. Kebanyakan pengembang saat ini kata Ishak menutupi gap produknya dengan gimmick-gimmick atau janji yang jauh dari kata sesuai dengan kebutuhan pasar. Sehingga akibatnya mereka melakukan manipulasi demi menutupi gap tersebut.
Sebagai contoh Ishak menyebutkan pengembang mempublikasikan jika produk mereka memiliki banyak fasilitas, terintegrasi dengan transportasi massal, bernuansa hijau dan bernilai investasi tinggi. Faktanya, fasilitas-fasilitas tersebut bukan berada di dalam kawasan produk tapi di luar area. Lalu jarak tempuh ke transportasi massal pun terbilang masih jauh. Kemudian jangankan menyebut hijau, pengembang bahkan tidak memberikan spase untuk taman di lingkungan. Sampai digadang-gadang bernilai investasi tinggi, kenyataannya tidak ada penyewa dan kenaikan gain juga kecil.
“Ini yang sebut pengembang bukannya memperkecil gap, tapi malah memperbesarnya. Langkah seperti ini sangat berbahaya bagi keberlangsungan pengembang,” pungkas Ishak.
Bagaimana pun pengembang harus mengerti kebutuhan konsumen. Meng-create produk dan promosinya harus sesuai sehingga bisa dijelaskan ke konsumen bahwa gap yang ada tidak besar. Kuncinya, tegas Ishak adalah mengecilkan gap dengan menaikan value produk yang mampu mendekatkan diri dengan kebutuhan konsumen.
“This is the reality. Ini kenyataannya. Jangan memanipulasi konsumen tapi create something,” imbuhnya.
Bagi Ishak siapa pun pengembangnya harus understand market dan industrinya. “Creating the value and we have to have the reason. Kenapa konsumen harus beli. Kenapa agen harus jual,” tutupnya.


Comment